Daftar Isi

Friday, June 29, 2012

Di Selo, waktu seperti berhenti berdetak


merapi pagi hari
Dari ketinggian 1600 meter di permukaan laut (dpl), wajah gunung Merapi, Merbabu dan Lawu nampak tertutup kabut, saat saya menjejakan kaki di bangunan bernama Joglo Wisata II, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, awal Juni lalu. Jarum jam masih menunjuk di angka 05.00 WIB. Udara dingin menyambar-nyambar ganas, ditingkahi tempias embun pagi, membuat darah seperti membeku keras. Seiring naiknya sinar matahari, puncak Merapi yang legendaris itu terlihat menguning, laksana bongkahan emas di puncak Monumen Nasional.

Pagi itu, Joglo Wisata masih sepi. Biasanya dari sinilah para pendaki Gunung Merapi mengawali langkahnya. Bangunan yang mudah dikenali karena ada tulisan besar “New Selo” itu dibuat tahun 2003, saat Mantan Presiden Megawati mengunjungi Selo. Sebelum Megawati, konon Bung Karno juga pernah menjenguk tempat ini. Untuk mencapai puncak Merapi, dari sini pendaki hanya butuh waktu tiga jam jalan kaki, yang biasanya dilakukan saat tengah malam.

***
Lereng Selo memang kalah terkenal dengan kawasan wisata Kaliurang, Yogyakarta.  Banyak kendala yang menghambat pembangunan Kecamatan Selo sebagai pusat plesiran.  Tak seperti Kaliurang, untuk mencapai lereng Selo, jalan yang menghubungkannya dengan pusat Kota Boyolali terkenal sempit.  Bus besar yang biasa dipakai untuk mengangkut wisatawan tidak bisa masuk, karena saat berpapasan dengan mobil lain harus minggir hingga memakan bahu jalan.

Banyak obyek wisata menarik yang bisa dikunjungi di Selo. Diantaranya wisata budaya, berupa labuhan kepala kerbau oleh  Keraton Solo di Puncak Merapi.  Begitu pula tiap tanggal 17 Agustus, ada upacara penaikan bendera merah putih di Puncak Merapi. Selo juga menawarkan pemandian pengging, yang kerap dipakai untuk kegiatan ritual kejawen. 
salah satu homestay

Sejauh ini, wisatawan yang berkunjung banyak didominasi dari dalam negeri. Wisatawan asing yang berkunjung ke Selo, biasanya memilih untuk mendaki Puncak Merapi. Mereka menginap di rumah-rumah penduduk, yang disulap menjadi homestay dengan tarif murah, sekitar Rp 40 ribu per malam. Tarif itu sudah termasuk makan pagi, dengan lauk ala kadarnya. Tapi kata Seno Samudro, Bupati Boyolali,  justru inilah yang banyak dicari oleh wisatawan asing. Mereka enggan menginap di hotel yang banyak bertebaran di Kota Boyolali !

***
Pendakian Gunung Merapi sendiri sudah dikelola cukup baik, dengan guide dan porter yang bisa meringankan para pengunjung untuk menikmati keeksotisan Merapi. Tarif guide sekitar Rp 200 ribu untuk perjalanan naik-turun. Sementara porter mematok harga Rp 150 ribu.  Tarif itu hanya sampai di lokasi bernama Pasar Bubrah. Ini pasar imajinatif, berupa hamparan luas batu-batu besar mirip lapak-lapak pasar. Konon di tempat inilah para dedemit Gunung Merapi “berdagang”.

Jika pengunjung ingin memakai jasa guide dan porter lebih ke atas lagi, harus ada harga baru. Tawar menawar bisa dilakukan, untuk mendapatkan harga terbaik. Setelah sepakat, barulah para pendaki diantar “berkunjung” ke petilasan Mbah Joyo, Watu Gajah Mungkur, tempat Gusti Prabu Alap-Alap dan tempat Kyai Petruk. Nama-nama tersebut adalah para pepunden alias penunggu tempat-tempat wingit di lereng Gunung Merapi.

Keangkeran tempat-tempat itu, membuat fungsi guide menjadi lumayan vital. Dialah yang mengingatkan pendaki, agar mematuhi aturan tak tertulis selama dalam perjalanan.  Diantaranya, para pendaki tak boleh mengeluh, apapun kondisi yang dialaminya. “Kalau kedinginan, jangan mengeluh kedinginan. Juga aturan-aturan lain, yang jadi pantangan selama mendaki. Pokoknya guide menjadi penunjuk jalan dan pemberi peringatan, supaya pendakian berjalan lancar,”kata Tri Joko, ketua kelompok sadar wisata Kecamatan Selo.

Hampir saban malam ada kelompok wisatawan yang ingin naik gunung. Mereka biasanya berangkat pukul 23.00 WIB dan sampai puncak dini hari, hingga bisa melihat matahari terbit.  Keramaian mencapai puncaknya saat peringatan 1 Suro. Ketika itu, labuhan kepala kerbau digelar.  Joglo Wisata II bisa penuh oleh pengunjung, yang hendak ke puncak. Tak heran, di sekitar bangunan itu banyak berdiri kios-kios yang menjual kebutuhan wisatawan, seperti makanan dan minuman.

***
Letak Selo yang berada di lereng gunung, membuat potensi agrowisata juga mendapat sentuhan serius. Menurut Tri Joko, ada sekitar 50 rumah yang siap menampung pengunjung yang datang berombongan. “Kita menyebutnya kampung home stay,”ujar Joko. Untuk menikmati sejumlah tempat wisata yang ada, penduduk setempat membuat sistem paket wisata, yang harus diikuti minimal 30 orang. “Pengunjung bisa memilih apa mau tinggal satu hari atau dua hari,”sambung Joko.

Sistem paket biasa di-booking oleh perusahaan, yang ingin memberi hiburan pada karyawannya.  Untuk paket satu hari, pengunjung akan mendapat well come drink, menonton keindahan panorama Selo di Selo theater, dihibur tarian topeng hitam, outbound dan makan siang. Juga ada kegiatan memetik sayur, memerah susu dan mengunjungi pusat kerajinan kuningan di Tumang, sekitar 4 kilometer dari puncak Selo.
penduduk Selo sedang memerah sapi
Jika memilih paket dua hari, tambahan atraksi wisata diberikan, berupa pengenalan mainan cokekan, kenduren nasi gunung, serta mengunjungi wahana Gua Raja, petilasan Prabu Kanigoro dan melihat-lihat tempat pengamatan Gunung Merapi, yang dilengkapi dengan seismograf. Kalau masih ada waktu, bisa juga melihat-lihat kebun tembakau, selada dan buah khas Selo yaitu kesemek. Pengunjung bisa langsung mencicipi kesemek setelah dipetik. Untuk menikmati paket wisata ini, tiap orang kena tarif sebesar Rp 75 ribu per hari.
suasana tenang perkampungan
Layaknya hawa pegunungan, suhu udara bisa turun hingga 18 derajat celcius. Persiapan matang pun harus dilakukan, sebelum memutuskan untuk menginap. Baju tebal dan selimut untuk tidur wajib dibawa, kalau tidak ingin “membeku” saat rehat di kamar. Begitu juga air untuk mandi. “Kalau nggak kuat mandi dengan air dari sumur langsung, lebih baik dipanaskan dulu. Karena kalau belum biasa disini, seperti mandi dengan air es,”ujar Joko mewanti-wanti.

Namun hawa dingin yang mendera, mungkin bisa sedikit terusir, jika kita turun sebentar ke Pasar Selo. Di sini terkenal dengan jadah goreng yang nikmat saat dimakan dengan minuman kopi. Pilihan kuliner lain bisa dipilih, jika menghendaki variasi makanan. Nasi campur ala Selo wajib dicicipi, sebelum beranjak meninggalkan homestay. Selebihnya, makanan ringan untuk oleh-oleh bisa dikunjungi, sebagai buah tangan untuk orang rumah.
***
Selain agrowisata, Selo juga menyimpan potensi berupa daerah penghasil kerajinan kuningan dan tembaga. Jika memasuki kampung Tumang, hampir 90 persen penduduknya menggantungkan hidup sebagai pengrajin kuningan. Hasil kerajinan kuningan dari Tumang tak hanya beredar di dalam negeri. Tapi juga sampai diekspor ke luar negeri. Pembeli dari mancanegara biasanya memesan barang di Tumang tanpa merk, kemudian menjualnya kembali dengan merk mereka sendiri. Kondisi ini sudah berlangsung sejak almarhum Supri Haryanto merintis kerajinan kuningan tahun 1983 lalu.
ruang pamer kerajinan kuningan
Pemilik Muda Tama Galery, Agus Haryanto misalnya. Anak Supri Haryanto ini sering mengekspor produknya ke Perancis dan Amerika Serikat, tanpa embel-embel merk perusahaannya. Agus mengaku tak bisa berbuat banyak, karena lebih memilih untuk menjaga kesinambungan pesanan. Apalagi sejak ayahnya meninggal, persaingan semakin ketat, sebab banyak karyawan ayahnya yang membuka galeri sendiri.

Di tempat Agus, berbagai alat rumah tangga, hiasan dinding dan pernak-pernik dari kuningan dan tembaga dibuat. Tidak tanggung-tanggung, agar kualitasnya terjaga, Agus mengaku mendatangkan kuningan langsung dari Italia dan Korea Selatan. “Kuningan dari Itali maupun Korea lebih mudah dibentuk. Bahannya lebih lentur dan tidak mudah pecah,”kata Agus. Tiap bulan, Agus mampu mengekspor perangkat dari kuningan dengan nilai ekspor sekitar Rp 150-200 juta.

tekun membuat barang kerajinan
Pasar lokal juga tak luput dari bidikan Agus. Produk kaligrafi tercatat yang paling laku dibeli. Agus mempromosikan usahanya dari mulut ke mulut. Selain itu, ia juga sering mengikuti pameran kerajinan yang kerap diselenggarakan pemerintah pusat. Agus juga banyak mendapat pelanggan atas rekomendasi pemerintah Kabupaten Boyolali, jika ada pihak yang ingin membeli barang dari kuningan, tembaga atau aluminium.

Tumang memang menawarkan sisi lain ketenangan Selo, dengan dentingan palu godam dan suara pahat yang bertalu-talu memecah kesunyian. Namun karena jaraknya tak jauh dari puncak Selo, suasana tenteram masih terlihat nyata. Mereka bekerja seperti anak sekolah, dengan jam kerja yang ditentukan lewat bunyi bel; kapan mulai mengelas dan kapan istirahat. Usai berkarya, sekitar pukul 17.00 WIB, para pekerja itu kembali ke rumah masing-masing, berkumpul dengan anak dan istri. Keheningan kembali menyergap, dengan desau angin  khas suasana pegunungan mengalir lirih, membuat waktu di Selo seperti berhenti berdetak.

Friday, June 22, 2012

Harta Karun Bung Karno itu Memang Ada



lantakan emas terhampar
Sebuah lukisan harimau besar menyambut kedatangan saya, menempel tepat di sisi pintu masuk rumah, sebelum kaki melangkah ke dalam dan disuguhi sekitar empat awetan harimau besar lainnya. Ada puluhan miniatur pesawat terbang dilemari kaca besar, di sisi kursi ruang tamu. Begitu pula puluhan lukisan lain, yang bergelantungan di seantero dinding, termasuk lukisan Nyai Roro Kidul yang muncul dari dasar samudera. 

Saya sempat tergelitik, dan iseng-iseng bertanya,”Bapak suka koleksi pesawat sama lukisan ya?”. Tuan rumah menjawab ramah,”Itu jenis-jenis pesawat yang pernah saya naiki. Saya tak cuma suka koleksi miniatur pesawat. Tapi juga keris,”jawabnya.

Serta merta, saya dibawa ke ruang khusus. Ruangan itu tidak begitu besar. Lampunya temaram, hingga tak jelas semua isi di dalamnya. Ada sajadah tergelar. Di sebelah ruangan itu, ada kamar kedap suara, yang berisi alat-alat band. Tuan rumah mengaku, dulu suka menghilangkan suntuk dengan ngeband bersama teman-temannya. Setelah jabatan strategis di partai ia pegang, waktunya tak cukup lagi untuk meluncaskan kegemarannya mencabik gitar.

Menariknya, di sisi pintu masuk kamar kedap suara, sebuah meja rendah nampak berselimutkan hio, dengan semangkok nasi dan segelas air didekatnya. Di atas meja itu, puluhan keris berbagai jenis terlihat tergelar. Percaya atau tidak, kata sang tuan rumah, nasi dan air itu disediakan untuk “makanan” sang keris. Jika telat saat memberikannya,keris-keris itu akan mengganggu anak-anaknya. “Saya juga harus rutin menjamasnya,”kata sang kolektor yang juga politisi terkenal tanah air itu.

Nalar rasional saya memang agak terganggu, melihat kenyataan ini. Yang saya hadapi bukanlah seorang paranormal.  Ia berpendidikan dan memimpin salah satu partai besar di Indonesia. Tapi cerita selanjutnya membuat saya meyakini, bahwa yang dikatakannya adalah benar.  Dia memang memiliki daya linuwih, untuk mendapatkan keris-keris itu dari berbagai tempat keramat di Indonesia.”Sejak muda saya gemar lelaku. Mendatangi makam-makam keramat dan menyerap energinya,”ujarnya.

emas bergambar Sukarno
Sebuah tombak kecil pernah ditariknya di makam seorang wali, saat ia tidur malam-malam di sampingnya. Ia “menyogok” sang penjaga makam, agar bisa masuk. Tengah malam, seekor cicak jatuh di pipinya. Reflek, tangannya membuang dan terdengar suara logam berdenting. Cicak itu berubah menjadi tombak. “Keris-keris ini juga saya ambil dengan lelaku tertentu. Ada juga yang menghilang. Saya anggap berarti dia sudah tak mau ikut saya,”katanya.

Usai panjang lebar menerangkan koleksi kerisnya, ia lantas beralih topik menanyakan kasus Said Agil, mantan menteri agama di era Megawati yang pernah menggali harta karun di Istana Batu Tulis, Bogor.”Pernah dengar khan? Anda percaya tidak kalau harta Bung Karno itu ada?”tanyanya. Saya tentu saja pernah mendengar ramai-ramai orang bicara harta warisan Bung Karno. Tapi saya tegaskan, sebelum melihat sendiri wujudnya, saya anggap isu itu hanya bualan orang-orang tak bertanggung jawab.

“Mau saya perlihatkan?Saya punya 7 ton emas peninggalan Bung Karno,”katanya datar. Dengan benak diliputi tanda tanya, saya kembali dibawa ke ruang tamu. Di sisi kursi tamu, ada peti yang diatasnya bertengger foto-foto keluarga. Setelah bingkai foto itu disingkirkan, tutup peti dibuka dan, subahanallah, lantakan emas terlihat memenuhi peti. Saya sempat mengambil satu. Saya amati cermat-cermat. Batangan emas itu bergambar Bung Karno, dengan tulisan “24 K” di sisi sebaliknya. “Ada empat peti. Tiga peti yang lain ada di kamar tadi,”kata pak politisi tadi.

Ini bukan adegan film Indiana Jones. Saya benar-benar harus percaya. Mata dan tangan ini tak bisa dibohongi. Pertanyaan berikutnya, dimana harta itu berhasil ditarik oleh dia? “Saya ambil di Batu Tulis. Malah sama istri ngambilnya. Anehnya, saat mengambil banyak orang lalu lalang. Tapi mereka tak tertarik,”kata mister politisi tadi. Emas 7 ton itu diantaranya ditaruh diruang tamu, karena ia yakin tak ada satu orang pun yang bakal mengutilnya. Padahal, selain istrinya, sopir dan penjaga rumahnya juga tahu.
emas dalam peti

Lantas bagaimana mekanisme penjagaannya?Nah, inilah sambungan cerita seperti yang saya sebutkan di awal tulisan. Usai mendapat lantakan emas, ia memperoleh wangsit jika harta karun itu bakal dijaga oleh harimau. Tak lama berselang, berdatangan orang-orang yang menawarkan awetan harimau. Dalam seminggu, terkumpul sejumlah itu. Penjaga rumahnya bahkan sempat bersaksi, dirinya melihat harimau beneran, yang menjaga di depan rumah. “Padahal saya nggak memelihara harimau hidup,hehe,”ujarnya.

Politisi ini dikenal bersih. Namanya tak pernah terdengar tersangkut kasus korupsi apapun. Tapi, bukan karena ia memiliki emas 7 ton, hingga dirinya tak tergoda untuk korupsi. “Saya orangnya sumeleh. Apa adanya. Rekening untuk nyimpan uang khusus saja nggak punya,”ujarnya. Soal emas lantakan, dia mengaku tidak pernah menjualnya, karena menunggu wangsit lebih lanjut, akan diapakan harta karun itu. Memang banyak yang menawarnya dengan harga fantastis. Tapi semua ditolaknya.

Sepanjang jalan pulang, benak saya terus terganggu dengan logam mulia itu. Ini pengalaman hidup yang belum pernah saya alami sepanjang waktu.  Saya sempat menghitung-hitung, berapa nilai rupiahnya, jika emas sebanyak itu dijadikan uang? Tapi, ah otak bebal saya tak bisa menjangkaunya. Di rumah, ketika saya searc di “paman” Google, ada memang berita yang menyebut, situs Batu Tulis saat digali mantan menteri agama Said Agil tidak menghasilkan apa-apa. Jangan-jangan, Said Agil kalah cepat dengan politisi tadi. Harta karun sudah diambil, dia baru bergerak berdasar petunjuk seorang kyai dari Banten, yang diyakini memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib.Hadeh, pusing kalau mikir ini….

Harta Karun Bung Karno itu Memang Ada



lantakan emas terhampar
Sebuah lukisan harimau besar menyambut kedatangan saya, menempel tepat di sisi pintu masuk rumah, sebelum kaki melangkah ke dalam dan disuguhi sekitar empat awetan harimau besar lainnya. Ada puluhan miniatur pesawat terbang dilemari kaca besar, di sisi kursi ruang tamu. Begitu pula puluhan lukisan lain, yang bergelantungan di seantero dinding, termasuk lukisan Nyai Roro Kidul yang muncul dari dasar samudera. 

Saya sempat tergelitik, dan iseng-iseng bertanya,”Bapak suka koleksi pesawat sama lukisan ya?”. Tuan rumah menjawab ramah,”Itu jenis-jenis pesawat yang pernah saya naiki. Saya tak cuma suka koleksi miniatur pesawat. Tapi juga keris,”jawabnya.

Serta merta, saya dibawa ke ruang khusus. Ruangan itu tidak begitu besar. Lampunya temaram, hingga tak jelas semua isi di dalamnya. Ada sajadah tergelar. Di sebelah ruangan itu, ada kamar kedap suara, yang berisi alat-alat band. Tuan rumah mengaku, dulu suka menghilangkan suntuk dengan ngeband bersama teman-temannya. Setelah jabatan strategis di partai ia pegang, waktunya tak cukup lagi untuk meluncaskan kegemarannya mencabik gitar.

Menariknya, di sisi pintu masuk kamar kedap suara, sebuah meja rendah nampak berselimutkan hio, dengan semangkok nasi dan segelas air didekatnya. Di atas meja itu, puluhan keris berbagai jenis terlihat tergelar. Percaya atau tidak, kata sang tuan rumah, nasi dan air itu disediakan untuk “makanan” sang keris. Jika telat saat memberikannya,keris-keris itu akan mengganggu anak-anaknya. “Saya juga harus rutin menjamasnya,”kata sang kolektor yang juga politisi terkenal tanah air itu.

Nalar rasional saya memang agak terganggu, melihat kenyataan ini. Yang saya hadapi bukanlah seorang paranormal.  Ia berpendidikan dan memimpin salah satu partai besar di Indonesia. Tapi cerita selanjutnya membuat saya meyakini, bahwa yang dikatakannya adalah benar.  Dia memang memiliki daya linuwih, untuk mendapatkan keris-keris itu dari berbagai tempat keramat di Indonesia.”Sejak muda saya gemar lelaku. Mendatangi makam-makam keramat dan menyerap energinya,”ujarnya.

emas bergambar Sukarno
Sebuah tombak kecil pernah ditariknya di makam seorang wali, saat ia tidur malam-malam di sampingnya. Ia “menyogok” sang penjaga makam, agar bisa masuk. Tengah malam, seekor cicak jatuh di pipinya. Reflek, tangannya membuang dan terdengar suara logam berdenting. Cicak itu berubah menjadi tombak. “Keris-keris ini juga saya ambil dengan lelaku tertentu. Ada juga yang menghilang. Saya anggap berarti dia sudah tak mau ikut saya,”katanya.

Usai panjang lebar menerangkan koleksi kerisnya, ia lantas beralih topik menanyakan kasus Said Agil, mantan menteri agama di era Megawati yang pernah menggali harta karun di Istana Batu Tulis, Bogor.”Pernah dengar khan? Anda percaya tidak kalau harta Bung Karno itu ada?”tanyanya. Saya tentu saja pernah mendengar ramai-ramai orang bicara harta warisan Bung Karno. Tapi saya tegaskan, sebelum melihat sendiri wujudnya, saya anggap isu itu hanya bualan orang-orang tak bertanggung jawab.

“Mau saya perlihatkan?Saya punya 7 ton emas peninggalan Bung Karno,”katanya datar. Dengan benak diliputi tanda tanya, saya kembali dibawa ke ruang tamu. Di sisi kursi tamu, ada peti yang diatasnya bertengger foto-foto keluarga. Setelah bingkai foto itu disingkirkan, tutup peti dibuka dan, subahanallah, lantakan emas terlihat memenuhi peti. Saya sempat mengambil satu. Saya amati cermat-cermat. Batangan emas itu bergambar Bung Karno, dengan tulisan “24 K” di sisi sebaliknya. “Ada empat peti. Tiga peti yang lain ada di kamar tadi,”kata pak politisi tadi.

Ini bukan adegan film Indiana Jones. Saya benar-benar harus percaya. Mata dan tangan ini tak bisa dibohongi. Pertanyaan berikutnya, dimana harta itu berhasil ditarik oleh dia? “Saya ambil di Batu Tulis. Malah sama istri ngambilnya. Anehnya, saat mengambil banyak orang lalu lalang. Tapi mereka tak tertarik,”kata mister politisi tadi. Emas 7 ton itu diantaranya ditaruh diruang tamu, karena ia yakin tak ada satu orang pun yang bakal mengutilnya. Padahal, selain istrinya, sopir dan penjaga rumahnya juga tahu.
emas dalam peti

Lantas bagaimana mekanisme penjagaannya?Nah, inilah sambungan cerita seperti yang saya sebutkan di awal tulisan. Usai mendapat lantakan emas, ia memperoleh wangsit jika harta karun itu bakal dijaga oleh harimau. Tak lama berselang, berdatangan orang-orang yang menawarkan awetan harimau. Dalam seminggu, terkumpul sejumlah itu. Penjaga rumahnya bahkan sempat bersaksi, dirinya melihat harimau beneran, yang menjaga di depan rumah. “Padahal saya nggak memelihara harimau hidup,hehe,”ujarnya.

Politisi ini dikenal bersih. Namanya tak pernah terdengar tersangkut kasus korupsi apapun. Tapi, bukan karena ia memiliki emas 7 ton, hingga dirinya tak tergoda untuk korupsi. “Saya orangnya sumeleh. Apa adanya. Rekening untuk nyimpan uang khusus saja nggak punya,”ujarnya. Soal emas lantakan, dia mengaku tidak pernah menjualnya, karena menunggu wangsit lebih lanjut, akan diapakan harta karun itu. Memang banyak yang menawarnya dengan harga fantastis. Tapi semua ditolaknya.

Sepanjang jalan pulang, benak saya terus terganggu dengan logam mulia itu. Ini pengalaman hidup yang belum pernah saya alami sepanjang waktu.  Saya sempat menghitung-hitung, berapa nilai rupiahnya, jika emas sebanyak itu dijadikan uang? Tapi, ah otak bebal saya tak bisa menjangkaunya. Di rumah, ketika saya searc di “paman” Google, ada memang berita yang menyebut, situs Batu Tulis saat digali mantan menteri agama Said Agil tidak menghasilkan apa-apa. Jangan-jangan, Said Agil kalah cepat dengan politisi tadi. Harta karun sudah diambil, dia baru bergerak berdasar petunjuk seorang kyai dari Banten, yang diyakini memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib.Hadeh, pusing kalau mikir ini….

Thursday, June 21, 2012

kejamnya industri hiburan kita

foto; reza (nyata)
Masih ingat nama Emil G. Hampp, sutradara papan atas yang pernah menghasilkan beberapa film laris?Apa kabarnya sekarang? Sudah cukup lama saya tidak mendengar beritanya. Saat saya minta bantuan "paman" Google untuk mencarinya, di situ cuma tertera Emil dalam sebuah akun facebook. Di kolom pekerjaan, dia menulis MD. Intertainmnet, sebagai tempatnya berkiprah sebagai seorang sutradara. Kabar mengejutkan justru saya dapatkan dari seorang pemain sinetron, yang juga wartawan, saat liputan bareng di Dimsum, Kemang, Jakarta Selatan, pertengahan Juni 2012.

Ini  memang bukan cerita aneh. Tapi tetap saja mengenaskan,  kalau bicara soal bagaimana Emil dulu sempat amat terkenal. Kata sang teman, Emil sekarang ngontrak kamar. Pekerjaan tidak ada (maksudnya tenaganya sudah jarang dipakai).Padahal ketika masih sibuk, dia bisa menyutradarai 2 sinetron stripping sekaligus. Saking melimpah rejekinya, Emil punya tiga rumah. Semua rumah itu lantas raib untuk bertahan hidup, karena ia terjebak pada gaya hidup borjuis seorang sutradara terkenal.

Teman saya memang tidak secara detil mengungkap, bagaimana gaya hidup Emil. Tapi orang yang lama di dunia hiburan,  mafhum dengan semuanya. Ironisnya, sutradara yang memiliki nasib seperti Emil tidak satu dua orang. Ada puluhan, dan dengan berbagai cara terus bertahan hidup di Jakarta. Salah satunya, mereka berhutang pada artis top yang sedang naik daun. "Nanti bayarnya kalau tenaga mereka dipakai. Tapi kadang karena lama nggak kepake, akhirnya utang itu menggunung. Itu yang terjadi pada diri saya, dan saya ikhlasin (mereka tidak bayar hutang),"kata Tante Yora, mamanya Nikita Willy, saat ngobrol dengan saya di lain waktu.
grup musik sedang merintis karir
Kembali  ke teman saya tadi. Dia bahkan mengungkap nama sutradara beken lain, yang sekarang jadi tukang ojek di Parung, Bogor. Namanya tidak saya sebutkan. Tapi saat masa jaya, dia satu level dengan Dedi Setiadi. Karena kesalahan manajemen, akhirnya bangkrut. Kini saban hari dia hanya mengandalkan sepeda motor tua, untuk mengantar pelanggannya. Usia lanjut juga membuat ia kalah bersaing dengan sutradara-sutradara muda lain, yang kini menjamur bak cendawan di musim hujan.

Selain sutradara, pemain sinetron banyak juga yang mengalami nasib serupa. Memang mereka tidak sampai harus ngojek. Tapi otak bisnis para produser, membuat pemain-pemain sinetron yang sempat ngetop, kini sudah masuk kotak. Istilah teman saya, dibusukin. Saat tenar, mereka dieksploitasi habis-habisan. Begitu penonton jenuh, mereka dibuang tanpa ampun. Begitulah hukum ekonomi bekerja di industri hiburan tanah air. Kejam dan tak kenal kompromi.

Beberapa memang bisa menyiasati keadaan. Saat sedang laris, para sutradara itu buka bisnis. Entah rumah produksi atau yang lain. Contohnya Dedy Mizwar. Tak heran, Dedy terus berada dalam masa keemasan. Hidupnya juga tak pernah susah. Rumah produksinya berkembang pesat. Tapi, lagi-lagi yang seperti Dedy sedikit. Kebanyakan terlena.Uang banyak, kenikmatan dunia direguknya habis-habisan. Tidak pernah berfikir, jika hidup seperti gelombang air laut. Ada pasang dan surutnya.

gemerlapnya panggung hiburan
Bagi pemain sinetron, kata teman saya, ada juga kiat yang pantas dicoba. Jika seorang bintang meledak setelah memerankan karakter tertentu,setelah syuting selesai sempatkanlah menolak tawaran main. Ini biar penonton lupa pada stereotif yang sudah dibangun sang bintang. Misal Anjasmara yang terkenal sebagai si Cecep. Jika ia kemaruk usai main Si Cecep, orang akan selalu mengidentikan Anjas dengan Si Cecep, meski ia memerankan tokoh lain. Sayang, keberanian untuk menolak tawaran main kadang tak dipunyai oleh setiap bintang. Akhirnya penonton mudah malas. Nasib si artis pun masuk kotak.

Dunia hiburan kita, penilaian teman saya, memang sedang mengalami proses pembusukan. Sekarang sinetron terkenal dengan sistem "pas foto". Seorang bintang di syut tanpa ada lawan main, karena kejar tayang. Jadi gambar yang diambil dari dada hingga kepala doang. Dia ngoceh sendiri. Sementara lawan mainnya berada di lokasi syuting lain, yang digarap oleh tim lain. "Kalau tidak seperti itu, tidak bisa mengejar jam tayang,"kata sang teman.

Sistem ini diciptakan, karena terjadi persaingan besar-besaran di kalangan para produser. Tidak semua pihak bisa enjoy. Banyak juga bintang yang menjerit. Atau sutradara yang kesal, karena ketergesaan ini berpengaruh pada kualitas sinetron. Tapi, di Jakarta kebutuhan hidup tidak bisa kompromi. Semua akhirnya ikut larut. Terjadi pembodohan pada pemirsa. Untung yang nonton sinetron para PRT. Saya yang pernah menjadi penulis skenario sinetron stripping, sampai sekarang belum hilang traumanya, karena harus terus menulis dialog dengan ungkapan sarkastis."Ah, makian goblok, bodoh, bajingan, kurang ajar, dan lain-lain itu sudah biasa,"lanjut sang teman.

Jika anda melihat para pemain sinetron sekarang bergelimang harta, sesungguhnya begitulah hukum yang berlaku saat mereka masih disukai penggemar. Ketika ada pendatang baru, mereka tersingkir. Begitu terus menerus. Mau sakit hati? Silahkan saja. Di Jakarta tidak ada yang mau mendengar. Berapa banyak penyanyi-penyanyi jebolan Indonesian Idol (RCTI) yang bisa sukses? Sangat sedikit. Kebanyakan mereka tenggelam, dan tak tahu harus bagaimana.

"Ada juga yang ikut numpang di apartemen Delon. Siapa tahu bisa diajak kalau ada pentas,"kata Mbak Vena, manajernya Delon mengomentari nasib tragis jebolan Indonesian Idol, saat saya mengunjungi apartemen Delon. Padahal saat di panggung dan masuk lima besar, mereka dipuja-puji setinggi langit. 

Dibilang penyanyi masa depan Indonesialah. Bakal jadi divalah.Dan sebagainya, dan lain-lain. Hingga semua terlena. Bahwa industri hiburan sengaja meninabobokan mereka, sambil memberi honor rendah, untuk menghasilkan keuntungan besar buat para kapitalis. Setelah milyaran rupiah diraup sang boss, mereka akan mencari "mainan" baru. Dan pemain lama pun dilupakan. Tanpa peduli. Kasihan,sungguh kasihan!














Wednesday, June 20, 2012

jagung rebus menteri pertanian

Menteri Pertanian Suswono
Seminggu sebelum reshuffle kabinet Indonesia bersatu jilid dua, Oktober 2011, rumah menteri pertanian Suswono terlihat sepi. Rumah itu terletak di ujung jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan. Tak jauh dari rumah Pak Suswono, deretan warung makan sudah mulai berkurang keramaiannya, saat saya datang. Kegelapan sudah memeluk Jakarta, karena adzan Isya hampir tiba. Saya memang disuruh datang sekitar pukul 19.30 oleh orang dekat pak menteri, sekedar untuk ngobrol-ngobrol.

Karena fotografer belum datang, sambil menunggu Pak Suswono, saya makan dulu. Tak lama, Pak Suswono tiba,  dengan iring-iringan mobil pengawal terlihat memasuki halaman rumah. Di samping pos sekuriti depan rumah, ternyata sudah menunggu anak Majalah Tempo. Karena mereka datang lebih dulu, terpaksa saya mengalah. Sambil menanti panggilan, sebotol teh dihidangkan oleh penjaga keamanan rumah pak menteri.

Jujur saja, pak menteri pertanian ini cukup mudah untuk dihubungi. Tidak terlalu birokratis dan banyak alasan. Bahkan karena masih cukup lama harus wawancara dengan anak Tempo, saya dan fotografer disuruh menunggu di ruang tamu lain. Rumah dinasnya juga tak neko-neko. Tidak ada gambar yang menunjukan “kebesaran” Pak Sus sebagai seorang menteri. Di dinding hanya ada foto keluarga cukup besar. Selebihnya kosong. Dinding dibiarkan terlihat apa adanya.

Karena pak menteri cukup lama ngobrol, akhirnya istrinya, Bu Wieke Wahyuni, keluar lebih dulu. Saya menangkap kesan, istri Pak Sus orang sederhana. Sejatinya memang begitu, setelah saya ngobrol panjang. Beliau bahkan masih ngurus usaha jahitnya di Bogor, ditengah kesibukan mendampingi suami. Saya sebut usaha jahit, karena kalau dibilang garmen nanti kesannya industri besar. Usaha ini, kata Bu Wieke, ia rintis cukup lama, ketika Pak Sus masih mengajar di IPB.

Tentu saja topik obrolan kami soal keluarga. Memang sayang, meski ada anaknya yang saat itu tinggal di Widya Chandra, tapi dia tak mau diekspos. Anak yang lain berdiam di Bogor, Jawa Barat. Pak Sus sendiri bolak-balik Jakarta-Bogor, karena anak istrinya tinggal di sana. Hanya saat ada acara-acara penting, istrinya datang ke Jakarta. Jarak Bogor-Jakarta yang lumayan jauh, membuat Pak Sus memutuskan menempati rumah dinas, demi efisiensi waktu.

Usai ngobrol cukup lama dengan Bu Wieke, Pak Sus akhirnya ikut bergabung. Hal pertama yang membuat saya terkejut, ternyata beliau lulusan SMA Negeri 1 Slawi, Tegal. Ini artinya, beliau kakak kelas saya, meski jaraknya cukup jauh. Wah, bangga juga ada alumni SMA 1 Slawi yang jadi menteri. Tapi, meski sama-sama wong Tegal, saya menjaga diri untuk tidak menyapanya dengan bahasa “ngapak”. Pak Sus sendiri tidak mau mengawalinya. Sepanjang perbincangan, dia selalu memakai Bahasa Indonesia.

Memang cukup unik. Karena biasanya kalau saya ketemu orang sesama Tegal di Jakarta, secara otomatis langsung pindah pakai Bahasa Tegalan. Tapi untuk kasus dengan Pak Sus, gila kalau saya memulainya. Kecuali beliau mau,pasti “gue” ladenin,hehe. Sepanjang wawancara sekitar satu jam, pak menteri banyak bercerita soal perjuangan hidupnya. Bagaimana dia dulu sempat belanja kain sendiri di Tanah Abang, dengan mobil butut. “Saya sendiri yang menggotong bahan untuk buat pakaian,”ujar Pak Sus.
rumah menteri di widya chandra
Istrinya memang ulet. Setelah bisnis jahit menjahit, mereka juga buka taman kanak-kanak. Awalnya, istrinya yang mulai. Dengan mengumpulkan anak-anak untuk diajar ngaji, aktivitas itu akhirnya berkembang. Sekarang sekolah itu sudah cukup berkembang. Menariknya, semua kegiatan bisnis itu menjadi alasan Pak Sus, untuk tidak takut diganti oleh Pak SBY, jika isu reshuffle benar-benar terjadi. Pak Sus mengaku akan kembali  mengajar, sambil berbisnis. 

Memang, isu itu tak terjawab. Hingga tulisan ini saya buat, Juni 2012, Pak Sus masih jadi menteri pertanian. Hanya saja, satu hal yang terus saya ingat kala bertemu dengan Pak Sus adalah kudapan yang menemani kami ngobrol. Saya kira orang rumah akan menghidangkan kue istimewa. Minimal seperti yang saya dapatkan saat berkunjung ke rumah dinas mantan menteri kelautan dan perikanan Fadel Muhammad. Tapi, lihatlah apa yang tersaji di piring kecil. “Silahkan dinikmati,”ujar Pak Sus menawarkan, saat hidangan itu datang.

Dua potong kecil jagung rebus, satu ubi rebus, kacang rebus dan singkong rebus, masing-masing tersaji dalam piring untuk satu tamu. Saya sempat tersenyum melihatnya. Pak menteri bilang, ingin membiasakan tamu-tamunya makan tanpa campuran gandum. Alasannya, karena gandum kita masih impor! Saya pun mencicipi jagungnya yang manis. Dalam sekejap, semua makanan itu saya tandaskan. Pak menteri bahkan menawari nambah. Tapi saya tolak.

Setelah perut agak kenyang, nah ini yang masih kurang pas. Minumannya ternyata teh manis. Saya berharap wedang ronde, biar sekalian mengingatkan saya saat nongkrong di warung kampung. Kebetulan dulu saya punya perkumpulan pengajian jum'atan, yang membuka bisnis warung kudapan. Menunya, ya seperti yang saya makan di rumah pak menteri. Cuma minumannya selain yang biasa tersaji di warung lain, warung kami menyediakan wedang ronde dan wedang jahe. Hasilnya jadi maknyus, setelah memakan jagung rebus. Mungkin lain waktu pak menteri bisa mencobanya,hahahaha…


Friday, June 15, 2012

Mencari kehangatan di Jalan Braga

jalan Braga, Bandung
Sepotong jalan di Kota Bandung itu akan semakin riuh, manakala matahari sudah tenggelam di bagian Barat. Beberapa tempat hiburan mulai buka, lampu-lampu dinyalakan dan deretan motor serta mobil akan memenuhi bahu jalan, hingga fajar merekah di langit kota yang juga terkenal dengan julukan Kota Kembang itu. Ya, Jalan Braga, kesitulah sebagian besar para pelancong menghabiskan waktu, membuang penat dan bercerita dari mulut ke mulut, hingga membuat jalan sempit ini terkenal sampai ke manca negara.

Braga memang banyak berubah. Aspal hotmix sudah diganti conblok yang cepat pecah. Pedagang lukisan jumlahnya menjadi puluhan. Galeri seni dan resto dengan beragam jenis menu bertumbuh di kanan kiri jalan. Gedung-gedung tua yang dulu sempat ngetop telah berganti fungsi atau tutup karena tak kuat bersaing. Satu-satunya penanda yang tak lapuk di makan usia adalah tempat-tempat bersantai, yang sudah hadir sejak puluhan tahun silam. New Braga Club, R Caraoce, Escobar Live Music, Grhyfone Live Caraoke, Caesar Pallace Distrik dan Intro Live Music adalah diantaranya.
***
Laiknya kawasan hiburan dan “cuci mata”, Braga tak luput dari otak bisnis para seniman lukis. Boleh jadi para seniman lukis sekitar  Bandung berfikir pragmatis, pelancong yang memadati Braga adalah mereka yang berkantong tebal. Maka selain jadi pusat hiburan, Braga juga menjadi sentra berbagai aliran lukisan dipajang. Dari kelas kaki lima hingga galeri-galeri seni yang didesain dengan sentuhan kontemporer, semua ada. Semua hidup, bergerak dan berdenyut menikmati limpahan rejeki dari para kolektor lukisan. Salah satunya adalah Pak Ujang (67) yang sudah 30 tahun berjualan lukisan di Jalan Braga.

deretan penjual lukisan
Pak Ujang adalah penjual lukisan pertama di Jalan Braga. Ia membuka lapak di depan bekas perbelanjaan Sarinah, yang sempat menjadi pusat belanja paling bergengsi di Kota Bandung. Tak jauh dari tempatnya memajang lukisan, bekas bioskop Majestic juga sudah beralih fungsi menjadi gedung serba guna. Begitu pula Hotel Braga, yang tutup seiring bermunculannya banyak hotel lain. Dulu, saat tempat-tempat itu masih berjaya, dagangan Pak Ujang laris manis dibeli pengunjung.”Orang-orang kaya yang habis belanja di Sarinah, biasanya beli lukisan ke saya,”ujar Pak Ujang dengan dialek Sundanya.

Walau penjual lukisan kini menjadi sekitar 60 orang, Pak Ujang masih tetap bertahan dengan profesinya. Ia juga enggan untuk berpindah tempat, takut pelanggannya susah mencarinya.  Pak Ujang bertutur, para pelanggannya yang kebanyakan para kolektor lukisan, secara berkala sering mendatanginya untuk melihat lukisan-lukisan terbaru. Dari merekalah, ia bisa menghidupi anak istrinya. “Selain itu, saya juga jadi kurator. Kalau ada lukisan yang rusak atau kurang bagus saya reparasi,”ujar pria gaek ini.

Harga lukisan yang ditawarkan bervariasi, dari Rp 200 ribu hingga Rp 5 juta. Berdasarkan pengalaman panjangnya di dunia lukisan, Pak Ujang selalu menyediakan lukisan pemandangan, bunga, kaligrafi dan ikan koi atau kuda yang banyak diburu para kolektor. Sementara untuk lukisan beraliran ekspresionis atau dekoratif hanya beberapa yang berminat. Dari mana Pak Ujang mendapat semua lukisan itu?”Para pelukis datang sendiri ke sini. Biasanya saya langsung beli kontan. Karena kalau nunggu sampai laku kasihan mereka. Kebutuhan hidup khan nggak bisa ditunda,”ujar pria yang tinggal di Ujung Berung ini.

***
Ada untungnya juga gedung-gedung tua di jalan Braga yang tutup karena dimakan usia. Di depan bangunan yang sudah tak terpakai itulah, para penjual lukisan memajang jualannya. Lukisan-lukisan dengan berbagai aliran dan tema, membuat wajah Jalan Braga seperti sebuah galeri besar. Kadang, bila lelah berjalan melihat-lihat lukisan, pusat jajanan menjadi tujuan berikutnya, sekedar untuk membuang penat. Sebuah toko kue kuno, dengan alat timbangan zaman Belanda dan interior bangunan yang lumayan jadul, bisa jadi alternatif bertandang. Namanya; Toko Sumber Hidangan.

Ini toko benar-benar tua secara harfiah. Selain bentuk fisik bangunannya, para pekerja yang melayani pembeli pun kebanyakan berusia lanjut. Maklumlah. Rata-rata mereka sudah bekerja di atas 20 tahun. Salah satunya Mak Engkus, yang sudah bekerja sejak berumur 17 tahun dan hingga kini masih aktif melayani pembeli meski usianya sudah menginjak 64 tahun. Kata Mak Engkus, toko ini sudah berdiri sejak 1926. Pemilik yang mengelolanya sekarang adalah generasi kedua pendiri toko dan sudah berusia 80 tahun. “Kita menyediakan semua jenis jajanan. Bisa langsung dimasak, sambil ditunggu,”kata Mak Engkus.

Pelanggan kue toko ini, uniknya, bisa makan nasi goreng, bistik dan es cream saat menunggu pesanan siap dibawa pulang. Hampir semua kue produksi toko ini laku di pasaran. Pelanggan setianya selalu datang, saat mereka kangen menikmati kue-kue seperti kroket, roti bolu, lemper dan lain-lain. Semua kue yang dimasak toko, rasanya tidak pernah berubah sejak pertama toko berdiri. “Soalnya resepnya tetap sama. Sampai kini resep itu sudah diturunkan ke anaknya yang sekarang mengelola. Kami tidak pernah dikasih tahu. Jadi bumbu-bumbunya tetap dibikin sang pemilik,”kata Mak Engkus.

Toko Sumber Hidangan melengkapi tempat-tempat kuliner sepanjang Jalan Braga, yang pantas untuk dicoba. Diantaranya Mie Reman, bebek goreng, atau pusat jajanan modern di Braga City Walk, yang belum lama berdiri. Tak jauh dari Toko Sumber Hidangan, resto Braga Permai juga menjadi tempat yang diincar para pengunjung Jalan Braga. Di resto ini, tersedia Western Food, Italian Food dan Oriental Food. “Ini restoran paling tua di sini (Jalan Braga). Karena sudah dikenal, kami buka dari pagi hingga tengah malam,”kata Rustandi, petugas sekuriti resto yang berjaga di depan.

galeri kaki lima
***
Banyaknya pelancong Jalan Braga, kerap kali membuat toko kerajinan menjadi tujuan berikutnya, sekedar mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ibu Sabrina yang membuka toko kerajinan SiBayak, rupanya mencium peluang itu. Sejak 8 tahun lalu, perempuan yang lahir di Jalan Braga ini banting stir menjual beragam kerajinan tangan, setelah jualan busananya kurang laku. Pilihan Ibu Sabrina ini, nyatanya tidak salah.”Banyak para wisatawan domestik maupun dari luar negeri yang membeli kerajinan tangan untuk kenang-kenangan,”ujar Ibu Sabrina.

Untuk memenuhi kebutuhan pembeli dan menjaga kualitas kerajinan, Ibu Sabrina sampai membina para pengrajin. Mereka dididik agar menghasilkan karya sesuai kualitas yang diinginkannya. Namun begitu, Ibu Sabrina juga kerap menerima titipan dari para pengrajin dari sekitar Bandung. Dari semua barang kerajinan yang dijual, kerajinan wayang menjadi primadona pengunjung tokonya. “Saya juga sempat nggak percaya, karena anak-anak juga suka beli wayang. Entah wayang kulit atau wayang golek,”ujar Ibu Sabrina.

Tak hanya menjual barang di tokonya, Ibu Sabrina juga menerima pesanan kerajinan untuk beragam keperluan. Ada yang dijual lagi, banyak pula yang dipakai untuk souvenir misal pernikahan. Baru-baru ini, ia menerima pesanan membuat 1000 bumerang, untuk dijual lagi oleh seorang pelanggan tokonya. “Untuk koleksi pribadi biasanya pelanggan pesan wayang. Mereka ingin dibuatkan tokoh-tokoh wayang tertentu,”ujar Ibu Sabrina. Tak ketinggalan, ia juga menerima pesanan dari lembaga, seperti patung garuda di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dibuat dari tembaga.

***
model dadakan jln Braga
Jalan Braga kini, memang mencoba bertahan dari gempuran pesatnya pembangunan kota Bandung. Gedung-gedung tua sengaja dipertahankan, meski kurang terawat dan tidak digunakan lagi. Keeksotisan wajah Braga ini, membuat para fotografer kerap menjadikannya sebagai tempat untuk mengambil foto-foto. Entah preweeding atau sekedar untuk koleksi pribadi. Seperti Awang, anak Bandung yang tiap minggu mengambil latar belakang gedung tua di Jalan Braga untuk foto-fotonya. Kebetulan ia tergabung dalam sebuah komunitas fotografi di Kota Bandung.

Braga di malam hari
Jalan Braga juga kerap menjadi lokasi syuting film atau sinetron.”Jumlahnya sudah nggak terhitung,”kata Asep, anak muda yang lahir di Jalan Braga dan bekerja di sebuah tempat karaoke. Menariknya, dengan segala aktifitas yang berlangsung dari pagi hingga dini hari, menurut Asep, jarang terjadi keributan berarti. Para pengunjung tempat hiburan yang didominasi orang-orang Malaysia, bisa bebas membelanjakan uangnya dan memberi berkah tersendiri bagi ratusan tukang parkir yang menjaga kendaraan mereka.”Yang datang ke tempat-tempat karaoke biasanya orang-orang berduit. Sedangkan yang berkantong cekak, biasa nongkrong di warung bakso yang  buka hingga pagi,”ujar Asep.

Penyanyi Charly Van Houten salah satu yang suka nongkrong di Jalan Braga. Ia biasa datang, ketika senja mulai menangkup Kota Bandung. Karena hampir sebagian besar resto, pub, karaoke dan diskotik mulai buka setelah pukul 18.00 WIB.  Saat itulah, Braga mulai berkurang dari hiruk pikuk kendaraan yang lewat. Toko kue, cinderamata, penjual lukisan dan aktivitas hunting foto dan syuting sinetron undur diri.Seiring semakin dinginnya udara Kota Bandung, kehangatan justru semakin naik, sejalan dengan kedatangan para pelancong yang membuat Jalan Braga seperti tak pernah tidur. 

Thursday, June 14, 2012

Pak Jenderal Takut Kamera

Jika Lady Diana meninggal dunia setelah mobil Mercedesnya dikejar papparazi,ketakutan serupa terjadi pada Brigjen (Pol) Yuskamnur, seorang perwira tinggi Polri yang dilaporkan mantan istrinya dengan dugaan telah melakukan tindak  Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Awal Juni 2012, Yuskam dipastikan bakal mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Ia akan berunding dengan mantan istrinya, Agnes, terkait nasib 4 anaknya yang berada di bawah pengasuhan Agnes. Bersama fotografer, saya datang ke kantor KPAI di bilangan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Ontran-ontran rumah tangga pasangan ini memang terbilang rumit. Setelah pergi dari rumah 2004 silam, Agnes membawa dua anak dari 4 anak hasil perkawinannya dengan Yuskam. Sekitar pertengahan Mei 2012, Agnes kembali “menculik” dua anaknya yang lain, Tasya (11) dan Alif (13) yang ikut Yuskam. Saat itu, Yuskam sedang bertugas ke Kalimantan. Tak lama, Agnes juga melaporkan suaminya ke polisi, dengan tuduhan telah melakukan KDRT.

Dua anak yang pergi belakangan, menurut pengacara Yuskam, nasibnya menjadi  tak jelas. Mereka tidak diketahui tinggal di mana dan sekolah di mana. Inilah yang jadi concern KPAI. Maka KPAI berinisiatif memediasi keduanya, untuk membicarakan bagaimana nasib anak-anak ke depannya. Agnes datang bersama 12 pengacaranya. Sementara Yuskam, lagi-lagi kata pengacaranya, baru mau datang jika Agnes membawa serta dua anak yang akan ditentukan nasibnya.

Sore itu Agnes tak datang bersama anak-anaknya. Alasannya, mereka belum mau ketemu ayahnya. Masih trauma. Saya sempat bimbang juga, karena Yuskamnur sebagai target utama bakal tidak datang. Para pengacaranya semua tutup mulut. Sudah bolak-balik ke dalam kantor KPAI, informasi yang terang belum saya dapatkan. Hingga iseng-iseng saya keluar gedung dan menuju halaman parkir gedung KPAI.

Di situ ada seorang laki-laki parobaya yang saya kenal orangnya pengacara Yuskamnur. Soalnya saat saya wawancara sang pengacara, dia ikut nimbrung. Saya tanya beliau. Jawaban beliau cukup mengejutkan. Katanya, Brigjen Yuskam datang tapi tidak keluar mobil. Dia bilang, Yuskam sudah pulang pukul 15.00, setelah melihat Agnes tak membawa anak-anak.  Info ini saya sampaikan ke fotografer. Karena masih penasaran, saya kembali masuk gedung dan merapat pada pengacara Agnes.

Dari mulut pengacara Agnes, informasi mengejutkan keluar. Ternyata, Yuskamnur sudah berada di dalam ruangan komisioner KPAI. Ia sedang berunding dengan Agnes dan para pengacaranya. Gila. Pantas saja tadi para wartawan disuruh keluar , dengan alasan yang tidak jelas. Rupanya saat wartawan keluar, Yuskam masuk. Info dari pengacara Agnes, Yuskamnur pakai baju warna coklat terang. Berdasar ini, kami berbagi tugas. Kebetulan ada dua fotografer yang bersama saya. Dua pintu keluar masing-masing disanggongi seorang fotografer.

Wartawan lain tak ada yang tahu. Saya sendiri menunggu di salah satu pintu, bersama seorang fotografer. Rencananya, saat Yuskam keluar, saya akan meminta komentarnya secara door stop. Begitu pula fotografer. Sesekali akan bertindak sebagai paparazzi, dengan menjepretnya tanpa pamit. Buat apa ngomong, kalau selama ini Yuskam seperti ditelan bumi. Tak pernah muncul barang sebentar, meski sang mantan istri sudah banyak bicara di media massa.

Cukup lama juga saya menunggu. Andrenalin mulai meninggi, ketika Agnes dan rombongan keluar ruangan. Saya segera lari untuk merekam statemen Agnes dan pengacaranya. Tapi, karena tak mau kehilangan moment, saya sempat tinggalkan dan kembali menunggu Yuskam. Alat perekam saya titipkan pada fotografer. Hingga kemudian, seorang pria agak buncit keluar mengenakan kemeja coklat terang. Tanpa ampun, fotografer segera menembaknya. Jepret,jepret,jepret…!
susahnya para fotografer
Sungguh menggelikan melihat reaksi Yuskamnur. Seperti melihat ular kobra yang bakal menyerang, dia terkaget-kaget dan dengan spontan lari ke belakang punggung pengacaranya. Peristiwa ini terjadi dalam hitungan detik. Sang pengacara bahkan terlihat ikut kaget. Karena menyadari masih ada wartawan, Yuskamnur akhirnya masuk kembali ke ruangan.  Dia ngendon  di kamar, dan tidak keluar lagi, hingga saya memutuskan pulang. Senja sudah mulai jatuh.  Fotografer saya masih menunggu, saat saya membelah kemacetan ibu kota.

Orang-orang Yuskamnur memang meminta wartawan pulang. Tapi permintaan itu tak kami penuhi. Mereka akhirnya tak bisa berbuat apa-apa.  Pukul 20.00 saya sampai di rumah. Saya tanya pada fotografer apakah bisa mendapat foto pak brigjen. Jawaban fotografer menggelikan. Katanya, saat keluar, semua lampu gedung dimatikan. Yuskam lantas ngeloyor, dengan  muka ditutupi karton seperti orang yang habis kena razia di hotel-hotel melati. Dia selamat menuju mobil, tanpa terlihat bagaimana bentuk parasnya.

Bagaimana hasil foto “curian” yang sempat diambil fotografer di depan ruangan mediasi? Gambarnya lebih lucu lagi. Dari balik punggung sang pengacara, wajah Yuskamnur tak terlihat sama sekali. Hanya dua telapak tangannya yang nampak mencengkeram bahu sang pengacara, dengan ekpresi pengacara yang ikut shock. Baru kali ini saya tahu, ternyata pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) takut dengan kamera wartawan. Kebetulan saat dilaporkan ke polisi oleh Agnes, Yuskamnur masih tercatat sebagai pejabat BIN.  Mungkin jika wajahnya dikenal publik, dia takut penyamarannya bakal selalu terbongkar,hehehehe.


Wednesday, June 13, 2012

foto bareng Iwan fals?wani piro?

Boleh saja sosok Iwan Fals dipuja puji komunitas OI seperti orang suci. Tapi untuk soal empati, Iwan ternyata hanya berkoar-koar sebatas syair lagu belaka. Saya tidak heran. Inilah kedahsyatan pencitraan, yang selama bertahun-tahun dibangun Iwan dengan susah payah. Saya katakan ia tak memiliki empati, karena sebagai penyanyi terkenal, Iwan paling tidak suka jika dimintai foto bareng oleh penggemarnya. Rumor itu sudah lama saya dengar, termasuk sikapnya yang selalu menjaga jarak dengan awak media.
Iwan Fals di sebuah konser

Peristiwa menjelang konser ijo royo-royo di Boyolali, Jawa Tengah,  awal Juni 2012, menjadi penegasan asumsi saya. Ceritanya, beberapa jam sebelum naik panggung, semua artis pendukung acara melakukan sesi foto. Tak terkecuali Iwan, yang sore itu memakai t-shirt warna krem dan celana ¾  putih dengan motif garis-garis hitam. Dia sedang merokok sambil ngobrol, ketika dipanggil untuk ikut sesi foto bersama wartawan. Iwan kemudian datang, sambil diiringi Cikal, anaknya yang kerap mendampinginya dalam berbagai acara konser.  

Sebetulnya di area pemotretan tak ada masyarakat yang ingin sekedar melihat Iwan. Di dekat taman hotel hanya berkumpul para wartawan, artis pengisi acara, musisi-musisi pendukung dan panitia pentas ijo royo-royo.  Iwan mendapat sesi foto terakhir, setelah Sawung Jabo, Toto Tewel, Ian Antono dan Oppie Andaresta di potret. Ia didampingi musisi pengiringnya, termasuk Cikal yang  ngintil terus seperti pengawal pribadi. Usai difoto wartawan, tidak disangka panitia penyelenggara yang mayoritas laki-laki segera menyerbu Iwan. Tujuannya cuma satu; ingin foto bersama.

Satu dua orang dilayani Iwan. Namun saat yang lain juga antusias ingin berfoto, dengan cepat Cikal langsung mencegahnya. “Stop,stop,stop…”katanya. Kebetulan saya memang agak jauh duduknya dari lokasi pemotretan. Tapi dari kejauhan pula, saya melihat ekspresi kecewa para penggemar Iwan yang juga panitia acara. Penyanyi balada dan lagu country itu langsung berjalan menjauh, tanpa basa-basi lagi.

Cerita lebih seru justru saya dapatkan, ketika saya menumpang mobil untuk menuju lokasi konser. Di dalam mobil, para anak muda yang sempat meminta foto bareng dengan Iwan menceritakan kekecewaannya. “Masa baru tiga jepretan langsung dihentikan Cikal. Sudah gitu dia bilang ‘tarif,tarif’. Ya akhirnya aku mundur. Males minta foto bareng aja minta bayaran,”ujar laki-laki dalam mobil. Info ini sempat saya cek ke beberapa orang lain. Ternyata benar adanya.

Pentas Iwan sendiri cukup sukses. Tapi sepanjang 45 menit jatah waktu dia, tak sekalipun Iwan menyapa penonton, yang kebanyakan komunitas OI dari berbagai daerah. Ia lebih suka monolog, untuk mengantar dari satu lagu ke lagu berikutnya. Anehnya, sambutan meriah masih tetap diberikan. Bahkan ada yang seperti orang kesetanan. Anak-anak baru gede itu rupanya tak pernah  berinteraksi langsung.  Jujur saja, saya dulu suka lagu-lagunya. Tapi setelah merasakan sendiri tingkah Mbak Yos, istri Iwan sekaligus manajernya, saya langsung stop.

Saat kami menuju hotel usai bubaran pentas, hal ini menjadi bahan diskusi di mobil. Kami menduga, Cikal tidak secara spontan bertingkah tak simpatik seperti itu. Mungkin dia sudah dibrief sama ibunya. Tidak mungkin Cikal bersikap seperti itu tanpa “arahan” dari orang tuanya. Atau, Iwan memang membiarkan karena merasa dirinya sudah punya nama besar. Jika memang begitu adanya, sungguh amat disayangkan. Apa susahnya bilang “maaf”, ketika memang ingin menolak penggemar untuk foto bersama. Pakai saja alasan, mau istirahat atau ada kegiatan lain. Tidak langsung menolak, apalagi sambil berteriak “tarif,tarif, tarif”, seperti kondektur bus kota saja.